Jelang Ramadan, BGN Susun Strategi Jaga Stok Pangan MBG
Menjelang bulan suci Ramadan 2026, pemerintah mulai mengantisipasi potensi gejolak harga pangan yang kerap terjadi akibat meningkatnya permintaan masyarakat. Salah satu langkah strategis dilakukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) melalui pengaturan bahan baku dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tidak mengganggu keseimbangan pasar.
Langkah ini ditempuh sebagai bentuk pencegahan dini terhadap inflasi pangan, sekaligus memastikan program MBG tetap berjalan optimal tanpa menekan ketersediaan bahan pokok di tingkat masyarakat.
Koordinasi Lintas Sektor Jaga Stabilitas Harga
Kepala BGN Dadan Hindayana menegaskan bahwa pengendalian harga pangan tidak bisa dilakukan secara sektoral. Karena itu, BGN melakukan koordinasi intensif dengan Kementerian Pertanian dan instansi terkait untuk mengatur komposisi bahan pangan yang digunakan dalam program MBG.
“Saya koordinasi juga dengan Kementerian Pertanian agar kita bisa mengatur bahan apa yang kita anjurkan untuk dikonsumsi, bahan apa yang harus ditahan dulu menjelang Ramadan, serta bahan apa yang dialihkan dengan penggantinya agar harga tetap stabil,” ujar Dadan saat Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Bogor.
Menurutnya, pendekatan substitusi bahan pangan menjadi kunci agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi tanpa memicu lonjakan harga di pasar tradisional maupun modern.
Strategi Substitusi Bahan Baku MBG
Dalam praktiknya, BGN menyiapkan skema penggantian bahan pangan tertentu yang berpotensi mengalami lonjakan harga menjelang Ramadan. Bahan yang permintaannya melonjak tajam akan dikurangi porsinya dalam menu MBG dan diganti dengan alternatif lain yang nilai gizinya setara.
Strategi ini bertujuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan gizi penerima manfaat dan stabilitas pasokan nasional. Dengan demikian, program MBG tidak menjadi faktor tambahan yang memperbesar tekanan inflasi pangan musiman.
Langkah ini juga dinilai adaptif terhadap dinamika pasar, mengingat Ramadan hampir selalu diikuti peningkatan konsumsi rumah tangga secara nasional.
Perluasan Penerima Manfaat MBG
Selain fokus pada stabilitas pangan, BGN juga terus memperluas jangkauan penerima manfaat MBG. Program ini tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga kelompok rentan lainnya.
Saat ini, MBG telah mencakup:
- Ibu hamil dan ibu menyusui
- Anak balita
- Seluruh anak sekolah hingga usia 18 tahun
- Anak putus sekolah hingga usia 18 tahun
- Penyandang disabilitas
Ke depan, kelompok lansia juga akan masuk dalam cakupan program melalui kerja sama dengan Kementerian Sosial.
Integrasi Program dengan Kementerian Sosial
Terkait penyaluran MBG bagi lansia, Dadan menjelaskan bahwa mekanisme teknis menjadi tanggung jawab Kementerian Sosial. Namun, BGN berupaya mengintegrasikan sistem agar pelaksanaan di lapangan tetap terpadu dalam satu wilayah.
“MBG ini sudah menyasar banyak kelompok. Untuk lansia memang menjadi tugas Kemensos, tetapi kita akan integrasikan bagaimana caranya agar dalam satu kesatuan wilayah bisa diberikan secara efektif,” jelas Dadan.
Integrasi ini dinilai penting agar tidak terjadi tumpang tindih program serta memastikan distribusi berjalan efisien dan tepat sasaran.
Dampak Ekonomi bagi Masyarakat Bawah
Program MBG tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan masyarakat, tetapi juga memberikan efek ekonomi yang signifikan. Hingga Januari 2026, BGN mencatat penyerapan anggaran APBN mencapai Rp19,5 triliun.
Anggaran tersebut tidak hanya digunakan untuk penyediaan makanan bergizi, tetapi juga dikonversi menjadi perputaran ekonomi di tingkat lokal. Banyak pelaku usaha kecil dan menengah terlibat sebagai penyedia bahan baku maupun pendukung operasional.
Salah satu contoh konkret adalah industri sabun rumahan yang ikut berkembang karena kebutuhan sanitasi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
MBG sebagai Motor Penggerak Ekonomi Lokal
Keterlibatan wirausaha lokal dalam rantai pasok MBG menjadi bukti bahwa program ini dirancang dengan pendekatan pemberdayaan ekonomi. Dengan menyerap produk lokal, MBG membantu menciptakan lapangan kerja dan menjaga daya beli masyarakat.
BGN menilai keberlanjutan program ini tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari kontribusinya terhadap penguatan ekonomi akar rumput.
Menjaga Keseimbangan Gizi dan Stabilitas Pasar
Menjelang Ramadan, tantangan pemerintah bukan hanya memastikan ketersediaan pangan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara konsumsi, harga, dan distribusi. Program MBG, dengan skala nasionalnya, memiliki potensi besar memengaruhi pasar jika tidak dikelola secara hati-hati.
Melalui koordinasi lintas sektor, strategi substitusi bahan pangan, serta integrasi program sosial, BGN berupaya memastikan MBG tetap menjadi solusi gizi tanpa menjadi beban bagi stabilitas ekonomi nasional.
Penutup
Langkah preventif BGN menjelang Ramadan 2026 menunjukkan pendekatan kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan gizi, tetapi juga pada stabilitas harga dan keberlanjutan ekonomi. Dengan perencanaan matang dan kolaborasi antarkementerian, program Makan Bergizi Gratis diharapkan tetap berjalan efektif, inklusif, dan ramah pasar.
Ke depan, keberhasilan MBG akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara kebutuhan sosial dan dinamika ekonomi, khususnya di momen krusial seperti Ramadan.
Baca Juga : Pesawat Latih Jatuh di Orenburg Rusia, Tiga Orang Tewas
Cek Juga Artikel Dari Platform : bengkelpintar

