Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I memantau adanya 11 titik panas atau hotspot yang terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatra Utara (Sumut). Temuan ini menjadi perhatian penting mengingat hotspot sering kali menjadi indikator awal potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama pada musim kering atau saat kondisi cuaca mendukung terjadinya pembakaran.
Ke-11 titik panas tersebut terpantau berada di tujuh kabupaten, yakni Kabupaten Karo, Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, Simalungun, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Kabupaten Toba. Data ini menunjukkan bahwa sebaran hotspot tidak hanya terpusat di satu wilayah, melainkan tersebar di beberapa daerah dengan karakteristik lahan yang berbeda-beda.
Prakirawan BBMKG Wilayah I, Lestari Purba, menjelaskan bahwa titik panas tersebut terpantau melalui pemantauan sensor satelit yang digunakan untuk mendeteksi anomali suhu permukaan bumi.
“Titik panas tersebut terpantau berdasarkan pantauan sensor satelit, yakni Satelit Tera, Aqua, SNPP, dan NOAA20,” ujar Lestari Purba, dikutip dari Antara, Kamis, 12 Februari 2026.
Pemantauan hotspot melalui satelit menjadi salah satu metode utama dalam sistem peringatan dini kebakaran lahan. Satelit-satelit tersebut mampu mendeteksi peningkatan suhu yang tidak normal pada permukaan bumi, yang kemudian diidentifikasi sebagai titik panas. Meski demikian, hotspot tidak selalu berarti kebakaran besar sudah terjadi, namun dapat menjadi indikasi adanya aktivitas pembakaran lahan atau potensi munculnya api di lapangan.
BBMKG bersama instansi terkait biasanya akan meneruskan informasi hotspot ini kepada pemerintah daerah dan aparat penanggulangan bencana agar dapat dilakukan pengecekan langsung di lokasi. Langkah ini penting untuk memastikan apakah titik panas tersebut benar-benar berasal dari kebakaran atau hanya anomali suhu sementara.
Dalam konteks Sumatra Utara, hotspot menjadi isu serius karena wilayah ini memiliki kombinasi lahan pertanian, perkebunan, serta kawasan hutan yang cukup luas. Pada beberapa kasus, pembukaan lahan dengan cara dibakar masih menjadi praktik yang dilakukan sebagian masyarakat karena dianggap cepat dan murah. Namun, metode tersebut sangat berisiko karena api dapat meluas dan sulit dikendalikan, terutama saat angin kencang atau kondisi tanah yang kering.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran saat membersihkan lahan. Imbauan ini disampaikan sebagai langkah preventif untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran lahan yang dapat merugikan banyak pihak.
Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan, tetapi juga menimbulkan masalah kesehatan akibat kabut asap. Polusi udara dari kebakaran lahan dapat menyebabkan gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya. Selain itu, kabut asap juga dapat mengganggu aktivitas transportasi dan perekonomian masyarakat.
Tujuh kabupaten yang terdeteksi memiliki hotspot juga memiliki potensi risiko yang berbeda. Kabupaten Karo misalnya, dikenal memiliki kawasan pertanian dan perbukitan. Sementara Labuhanbatu dan Labuhanbatu Utara memiliki area perkebunan yang luas. Kabupaten Simalungun, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara juga memiliki wilayah hutan serta lahan pertanian yang rentan terhadap pembakaran. Kabupaten Toba, dengan kawasan wisata Danau Toba, juga perlu perhatian khusus agar hotspot tidak berkembang menjadi kebakaran yang dapat mengganggu sektor pariwisata.
Pemerintah daerah bersama aparat terkait biasanya meningkatkan patroli lapangan ketika hotspot mulai terpantau. Selain itu, edukasi kepada masyarakat tentang bahaya pembakaran lahan juga terus digencarkan. Pencegahan dini dinilai jauh lebih efektif dibandingkan pemadaman ketika kebakaran sudah meluas.
Masyarakat juga diharapkan segera melapor kepada pihak berwenang apabila melihat adanya aktivitas pembakaran lahan atau asap yang mencurigakan. Kolaborasi antara warga, pemerintah, dan aparat sangat penting untuk mencegah bencana kebakaran hutan dan lahan yang lebih besar.
BBMKG sendiri akan terus melakukan pemantauan secara berkala melalui satelit dan sistem meteorologi lainnya. Informasi hotspot menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana yang lebih luas, termasuk prediksi cuaca, potensi kekeringan, serta kondisi atmosfer yang dapat memperburuk penyebaran api.
Dengan terdeteksinya 11 titik panas di tujuh kabupaten Sumatra Utara, kewaspadaan perlu ditingkatkan. Pencegahan kebakaran lahan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sembarangan. Langkah kecil seperti menghindari pembakaran lahan dapat menjadi kunci untuk menjaga lingkungan, kesehatan, serta keselamatan bersama.
Baca juga : BMKG Tetapkan 6 Daerah di NTB Siaga Hujan Lebat 11–20 Februari
Cek Juga Artikel Dari Platform : iklanjualbeli

