Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan enam daerah di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berstatus siaga hujan lebat pada dasarian II Februari 2026, yakni mulai tanggal 11 hingga 20 Februari 2026. Penetapan status siaga ini dilakukan menyusul meningkatnya potensi hujan berintensitas tinggi yang dapat memicu berbagai bencana hidrometeorologis.
Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB, Anggitya Pratiwi, mengimbau masyarakat agar selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko bencana yang dapat muncul akibat cuaca ekstrem.
“Kami mengimbau masyarakat agar selalu waspada terhadap berbagai risiko bencana hidrometeorologis, seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang,” kata Anggitya di Mataram, Selasa, 10 Februari 2026, melansir Antara.
Status siaga ini menjadi peringatan dini bagi pemerintah daerah dan masyarakat agar dapat melakukan langkah mitigasi serta kesiapsiagaan sebelum dampak cuaca ekstrem terjadi.
Enam Daerah di NTB Masuk Status Siaga
BMKG menetapkan enam daerah di NTB dalam kategori siaga hujan lebat. Meski rincian wilayah spesifik dapat terus diperbarui sesuai perkembangan cuaca, status ini umumnya diberikan kepada daerah-daerah yang memiliki potensi curah hujan tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Penetapan status siaga ini berarti wilayah tersebut memiliki peluang lebih besar mengalami hujan lebat yang dapat memicu banjir, longsor, atau gangguan aktivitas masyarakat.
BMKG juga menegaskan bahwa status ini berlaku selama periode 11–20 Februari 2026, sehingga masyarakat diminta tidak lengah meski hujan belum terjadi setiap hari.
Potensi Bencana Hidrometeorologis Meningkat
Hujan lebat dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat dapat memicu bencana hidrometeorologis, yaitu bencana yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan iklim.
Beberapa risiko utama yang perlu diwaspadai masyarakat NTB selama periode siaga ini antara lain:
1. Banjir dan Genangan
Curah hujan tinggi dapat menyebabkan sungai meluap serta sistem drainase perkotaan tidak mampu menampung air, sehingga memicu banjir atau genangan di permukiman.
Wilayah dataran rendah dan daerah sekitar aliran sungai menjadi kawasan yang paling rentan terdampak banjir.
2. Tanah Longsor
Daerah dengan kontur perbukitan atau lereng curam memiliki risiko longsor lebih tinggi, terutama jika tanah sudah jenuh air akibat hujan yang turun terus-menerus.
Longsor dapat membahayakan permukiman, menutup akses jalan, dan mengganggu transportasi antarwilayah.
3. Angin Kencang
Hujan lebat sering kali disertai angin kencang yang dapat menyebabkan pohon tumbang, kerusakan atap rumah, serta gangguan jaringan listrik.
Masyarakat diminta waspada terutama saat hujan disertai petir dan angin kuat.
Dasarian II Februari Jadi Periode Rawan Cuaca Ekstrem
BMKG menjelaskan bahwa dasarian II Februari atau periode pertengahan bulan merupakan salah satu fase aktif musim hujan di wilayah NTB. Pada masa ini, dinamika atmosfer seperti monsun, gelombang atmosfer, serta kelembapan udara tinggi dapat memicu peningkatan curah hujan.
Kondisi ini membuat hujan lebat berpotensi terjadi lebih sering, terutama pada sore hingga malam hari.
BMKG terus memantau perkembangan pola cuaca dan akan memperbarui informasi apabila terdapat peningkatan status atau pergeseran wilayah terdampak.
Imbauan BMKG untuk Masyarakat NTB
BMKG memberikan sejumlah imbauan penting agar masyarakat dapat mengurangi risiko dampak cuaca ekstrem.
Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
- Memantau informasi cuaca resmi BMKG secara berkala
- Menghindari aktivitas di wilayah rawan longsor saat hujan deras
- Membersihkan saluran air dan drainase di sekitar rumah
- Waspada jika tinggal di dekat sungai atau daerah dataran rendah
- Mengamankan barang-barang penting dan dokumen keluarga
- Menghindari berteduh di bawah pohon besar saat angin kencang
Kesiapsiagaan menjadi kunci utama agar dampak bencana dapat diminimalkan.
Peran Pemerintah Daerah dan BPBD
Selain masyarakat, pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga diharapkan meningkatkan kesiapan menghadapi potensi bencana.
Langkah yang dapat dilakukan pemerintah daerah meliputi:
- Menyiapkan posko siaga bencana
- Memastikan jalur evakuasi dan peringatan dini berjalan
- Mengaktifkan relawan kebencanaan di tingkat desa
- Menyediakan bantuan logistik jika terjadi bencana
- Berkoordinasi dengan BMKG dan instansi terkait
Sinergi antara pemerintah dan masyarakat sangat penting untuk menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Pentingnya Edukasi dan Mitigasi Hidrometeorologi
Bencana hidrometeorologis kini menjadi jenis bencana yang paling sering terjadi di Indonesia, terutama saat musim hujan. Oleh karena itu, edukasi masyarakat mengenai mitigasi bencana menjadi semakin penting.
Warga perlu memahami bahwa peringatan dini dari BMKG bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan sebagai langkah pencegahan agar masyarakat lebih siap.
Dengan kesiapsiagaan, risiko korban jiwa dan kerugian materi dapat ditekan.
Penutup
BMKG menetapkan enam daerah di Nusa Tenggara Barat berstatus siaga hujan lebat pada periode 11 hingga 20 Februari 2026. Status ini dikeluarkan karena meningkatnya potensi hujan berintensitas tinggi yang dapat memicu bencana hidrometeorologis seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang.
BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu waspada, memantau informasi cuaca resmi, serta melakukan langkah mitigasi di lingkungan masing-masing. Dengan kesiapsiagaan bersama, dampak cuaca ekstrem di NTB diharapkan dapat diminimalkan demi keselamatan masyarakat.
Baca juga : Perahu Migran Terbalik di Libya, 53 Orang Tewas atau Hilang
Cek Juga Artikel Dari Platform : festajunina

