Tragedi kemanusiaan kembali terjadi di rute migrasi paling berbahaya di dunia. Organisasi Migrasi Internasional (IOM) melaporkan bahwa sebanyak 53 migran tidak berdokumen, termasuk dua bayi, dinyatakan tewas atau hilang setelah sebuah perahu karet terbalik di lepas pantai Libya.
Peristiwa memilukan ini terjadi pada Jumat lalu di utara kota Zuwara, Libya. Perahu yang membawa 55 orang migran tersebut mengalami kecelakaan fatal hanya beberapa jam setelah meninggalkan pantai.
Dari puluhan orang yang berada di atas perahu, hanya dua perempuan asal Nigeria yang berhasil diselamatkan oleh otoritas Libya dalam operasi pencarian dan penyelamatan.
Insiden ini menambah panjang daftar tragedi di jalur Mediterania Tengah, sebuah rute yang telah menjadi kuburan laut bagi ribuan migran dalam beberapa tahun terakhir.
Hanya Dua Penyintas, Puluhan Lainnya Hilang
Menurut pernyataan resmi IOM, perahu yang mengangkut para migran terbalik di tengah perjalanan. Upaya penyelamatan berhasil menemukan dua orang perempuan asal Nigeria sebagai satu-satunya penyintas.
Kesaksian para penyintas menambah kesedihan tragedi ini. Salah satu perempuan mengatakan bahwa ia kehilangan suaminya dalam insiden tersebut.
Sementara penyintas lainnya menyebut bahwa kedua bayinya turut menjadi korban dan hilang bersama puluhan migran lainnya.
“IOM berduka atas hilangnya nyawa dalam insiden mematikan terbaru di rute Mediterania Tengah,” tulis badan PBB tersebut dalam pernyataannya.
IOM juga menambahkan bahwa tim mereka segera memberikan perawatan medis darurat kepada kedua penyintas setelah berhasil mendarat, bekerja sama dengan otoritas terkait.
Perjalanan Dimulai dari Al-Zawiya
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari keterangan penyintas, perahu tersebut berangkat dari wilayah Al-Zawiya, Libya, sekitar pukul 23.00 waktu setempat pada 5 Februari 2026.
Para migran yang berada di atas perahu merupakan warga negara Afrika yang mencoba menyeberang menuju Eropa melalui jalur laut.
Namun, perjalanan itu hanya berlangsung sekitar enam jam sebelum akhirnya perahu karet tersebut terbalik di tengah laut.
Kondisi cuaca ekstrem dan lemahnya fasilitas kapal yang digunakan diyakini menjadi faktor utama kecelakaan.
Mediterania Tengah: Jalur Migrasi Paling Mematikan
Rute Mediterania Tengah telah lama dikenal sebagai salah satu jalur migrasi paling berbahaya di dunia.
Migran dan pengungsi yang mencoba menyeberang biasanya menggunakan perahu karet atau kapal kecil yang tidak layak, penuh sesak, dan sering kali dioperasikan oleh jaringan penyelundup manusia.
IOM mencatat bahwa tragedi seperti ini bukanlah kejadian langka.
Pada Januari 2026 saja, sedikitnya 375 migran dilaporkan tewas atau hilang akibat kecelakaan kapal yang disebut sebagai “tak terlihat” di Mediterania Tengah, terutama di tengah cuaca ekstrem.
Lebih mengkhawatirkan lagi, banyak kematian diyakini tidak tercatat karena perahu-perahu tersebut tenggelam tanpa saksi dan tanpa laporan resmi.
Lebih dari 1.300 Migran Hilang Sepanjang 2025
Data Missing Migrants Project milik IOM menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025, lebih dari 1.300 migran telah dilaporkan hilang di Mediterania Tengah.
Angka tersebut menggambarkan betapa besar risiko yang dihadapi para migran yang nekat menempuh perjalanan laut.
Banyak dari mereka melarikan diri dari konflik, kemiskinan ekstrem, atau ketidakstabilan politik di negara asal.
Namun, harapan untuk mendapatkan kehidupan lebih baik sering kali berakhir tragis di tengah laut.
Jumlah Korban 2026 Terus Bertambah
Insiden terbaru di lepas pantai Libya ini menambah jumlah migran yang dilaporkan tewas atau hilang di rute Mediterania Tengah pada tahun 2026 menjadi sedikitnya 484 orang.
Angka tersebut baru memasuki awal tahun, tetapi sudah menunjukkan tren mengkhawatirkan.
Organisasi kemanusiaan menilai bahwa tanpa langkah serius dari komunitas internasional, tragedi seperti ini akan terus berulang.
Rute migrasi ini tetap menjadi jalur putus asa bagi ribuan orang yang merasa tidak memiliki pilihan lain.
Migrasi, Harapan, dan Keputusasaan
Setiap angka dalam laporan IOM sebenarnya adalah manusia dengan cerita hidup, keluarga, dan harapan.
Mereka bukan sekadar statistik, tetapi individu yang mempertaruhkan nyawa demi masa depan.
Tragedi ini juga memperlihatkan sisi gelap migrasi global, di mana banyak orang dipaksa memilih antara bertahan dalam kondisi tidak manusiawi di negara asal atau menghadapi risiko kematian di perjalanan.
Perahu-perahu karet yang penuh sesak menjadi simbol keputusasaan, sekaligus bukti bahwa krisis migrasi bukan hanya persoalan perbatasan, tetapi persoalan kemanusiaan.
Seruan untuk Tindakan dan Perlindungan
IOM dan badan-badan PBB terus menyerukan perlunya:
- Jalur migrasi yang lebih aman dan legal
- Operasi penyelamatan yang lebih kuat
- Penindakan terhadap penyelundup manusia
- Perlindungan bagi pengungsi dan migran rentan
- Kerja sama internasional untuk mengatasi akar masalah migrasi
Tanpa kebijakan yang lebih manusiawi, tragedi seperti di Libya akan terus terjadi.
Kesimpulan: Laut Mediterania yang Semakin Mematikan
Kecelakaan perahu migran di lepas pantai Libya yang menewaskan atau menghilangkan 53 orang, termasuk dua bayi, kembali menegaskan bahwa Mediterania Tengah adalah salah satu rute migrasi paling mematikan di dunia.
Hanya dua penyintas yang berhasil diselamatkan, sementara puluhan lainnya hilang di laut.
Dengan jumlah korban yang terus meningkat sejak awal 2026, tragedi ini menjadi peringatan keras bahwa krisis migrasi global membutuhkan solusi nyata, bukan sekadar simpati.
Di balik setiap perahu yang tenggelam, ada harapan yang karam, dan dunia kembali dihadapkan pada pertanyaan besar tentang kemanusiaan, perlindungan, dan tanggung jawab bersama.
Baca juga : https://museros.site/mahasiswa-ums-terapkan-pembelajaran-fonetik-di-thailand/
Cek Juga Artikel Dari Platform : iklanjualbeli

