museros.site Aksi unjuk rasa buruh yang digelar di sekitar Istana Negara memanas dan menyisakan sorotan tajam terhadap cara aparat menangani massa. Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, secara terbuka meluapkan kemarahannya atas pengamanan yang dinilai berlebihan dan cenderung represif. Ia menilai perlakuan aparat terhadap buruh tidak mencerminkan semangat demokrasi yang seharusnya dijunjung negara.
Menurut Said Iqbal, suasana aksi yang sejatinya bertujuan menyampaikan aspirasi justru berubah menjadi ajang ketegangan. Ia menilai pendekatan keamanan yang digunakan lebih menyerupai penanganan ancaman, bukan pengamanan terhadap warga negara yang sedang menggunakan hak konstitusionalnya untuk menyampaikan pendapat.
Sorotan terhadap Tindakan Aparat di Lapangan
Dalam keterangannya di kawasan Monas, Said Iqbal menyoroti sejumlah tindakan aparat yang dianggap melampaui batas. Ia menyebut adanya mobil komando aksi yang diderek serta peserta aksi yang didorong mundur, sehingga menimbulkan kesan bahwa demonstran diperlakukan seperti pihak yang harus dilumpuhkan.
Menurutnya, tindakan tersebut mengingatkan pada pendekatan keamanan di masa lalu yang sarat nuansa militeristik. Said Iqbal menegaskan bahwa dalam negara demokrasi, aparat seharusnya mengedepankan dialog dan perlindungan, bukan intimidasi atau tekanan fisik.
Pertanyaan Kritis kepada Presiden
Tak hanya mengkritik aparat di lapangan, Said Iqbal juga melontarkan pertanyaan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia mempertanyakan apakah kepala negara mengetahui secara langsung situasi yang dihadapi para buruh saat menyampaikan aspirasi di depan pusat pemerintahan.
Bagi Said Iqbal, pertanyaan ini bukan sekadar retorika. Ia ingin menegaskan bahwa buruh bukan musuh negara. Mereka adalah warga negara yang berjuang untuk hak hidup layak melalui kebijakan pengupahan yang adil. Ketika buruh dihadapi dengan barikade dan tekanan, ia menilai ada jarak yang semakin lebar antara pemerintah dan rakyat pekerja.
Akar Masalah: Penolakan Kebijakan Upah
Aksi buruh ini dipicu oleh penolakan terhadap penetapan Upah Minimum Provinsi di Jakarta serta Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota di wilayah Jawa Barat. Buruh menilai kebijakan tersebut tidak mencerminkan kebutuhan hidup yang terus meningkat dan belum sepenuhnya berpihak pada kesejahteraan pekerja.
Menurut perwakilan buruh, besaran upah yang ditetapkan masih jauh dari kata layak jika dibandingkan dengan biaya hidup di kawasan perkotaan. Kenaikan harga kebutuhan pokok, transportasi, dan perumahan menjadi alasan utama buruh menuntut evaluasi ulang kebijakan upah.
Demonstrasi sebagai Saluran Demokrasi
Said Iqbal menekankan bahwa demonstrasi adalah bagian sah dari mekanisme demokrasi. Dalam sistem yang sehat, unjuk rasa seharusnya dipandang sebagai bentuk partisipasi publik, bukan ancaman keamanan. Ia menilai pendekatan represif justru berpotensi memperkeruh situasi dan menurunkan kepercayaan publik terhadap negara.
Ia juga mengingatkan bahwa buruh telah berulang kali menempuh jalur dialog dan audiensi. Namun ketika aspirasi tersebut tidak mendapatkan respons memadai, aksi turun ke jalan menjadi pilihan terakhir untuk didengar.
Kekhawatiran atas Preseden Buruk
Ketegangan dalam aksi ini memunculkan kekhawatiran akan preseden buruk bagi kebebasan berekspresi. Jika demonstrasi buruh di pusat pemerintahan dihadapi dengan cara-cara keras, publik khawatir ruang demokrasi akan semakin menyempit.
Sejumlah pengamat menilai bahwa pengamanan berlebihan justru dapat memicu eskalasi konflik. Dalam banyak kasus, pendekatan persuasif dan komunikasi terbuka terbukti lebih efektif menjaga ketertiban sekaligus menghormati hak warga.
Harapan Evaluasi dan Dialog Terbuka
Menutup pernyataannya, Said Iqbal mendesak pemerintah dan kepolisian untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola pengamanan aksi massa. Ia berharap ke depan, aparat dapat mengedepankan pendekatan humanis dan dialogis, khususnya saat berhadapan dengan buruh yang menyuarakan tuntutan ekonomi.
Bagi buruh, isu upah bukan sekadar angka, melainkan soal kelangsungan hidup. Oleh karena itu, Said Iqbal menegaskan bahwa pemerintah seharusnya hadir sebagai penengah yang adil, bukan sebagai pihak yang membuat buruh merasa diperlakukan layaknya musuh. Aksi ini diharapkan menjadi momentum refleksi bagi semua pihak untuk memperkuat demokrasi dan keadilan sosial di Indonesia.

Cek Juga Artikel Dari Platform beritagram.web.id
