museros.site Lonjakan transaksi keuangan selama Ramadan dan menjelang Lebaran membawa berkah bagi sektor perbankan, namun di sisi lain juga meningkatkan risiko kejahatan siber. Bank Negara Indonesia atau BNI mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan digital, terutama phishing, yang kerap menyasar nasabah saat momen pencairan Tunjangan Hari Raya (THR).
Corporate Secretary BNI menyampaikan bahwa peningkatan aktivitas transaksi secara signifikan sering dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksinya. Saat masyarakat lebih aktif berbelanja, mentransfer dana, atau melakukan pembayaran digital, celah keamanan sering kali ikut terbuka jika tidak diimbangi dengan kewaspadaan.
Momentum Ramadan memang identik dengan tingginya perputaran uang. THR yang cair dalam jumlah besar membuat saldo rekening masyarakat meningkat. Kondisi ini menjadi target empuk bagi pelaku penipuan yang mencoba mencuri data atau mengambil alih akun korban.
Phishing Masih Jadi Modus Utama
Phishing disebut sebagai salah satu bentuk kejahatan siber yang paling sering terjadi. Dalam skema ini, pelaku menyamar sebagai institusi resmi atau pihak tepercaya untuk mendapatkan informasi sensitif milik korban.
Data yang menjadi sasaran biasanya berupa username, kata sandi, kode OTP, hingga informasi kartu kredit. Begitu korban lengah dan memberikan data tersebut, pelaku dapat dengan mudah mengakses akun dan melakukan transaksi ilegal.
Serangan phishing bisa datang dari berbagai kanal komunikasi. Email, SMS, pesan instan, hingga media sosial sering dijadikan sarana untuk mengirim tautan palsu atau lampiran berbahaya. Pesan yang dikirim biasanya dibuat seolah-olah resmi dan meyakinkan agar korban tidak curiga.
Modus Semakin Canggih dan Tertarget
BNI menyoroti bahwa tren kejahatan siber kini semakin canggih. Pelaku tidak lagi mengirim pesan massal secara acak, melainkan menargetkan korban dengan pendekatan yang lebih personal. Bahkan, teknologi kecerdasan buatan mulai dimanfaatkan untuk membuat pesan yang terlihat lebih autentik.
Ciri-ciri phishing umumnya dapat dikenali jika nasabah lebih teliti. Misalnya, alamat email pengirim yang mencurigakan, penggunaan sapaan umum seperti “Pelanggan yang Terhormat”, atau pesan bernada mendesak yang meminta korban segera mengambil tindakan.
Tautan yang dikirim juga sering kali menyerupai situs resmi bank, tetapi memiliki alamat domain yang berbeda. Perbedaan kecil pada ejaan alamat situs bisa menjadi indikasi kuat bahwa tautan tersebut palsu.
Langkah Pencegahan yang Disarankan
BNI mengimbau nasabah untuk selalu memeriksa alamat pengirim sebelum merespons pesan apa pun. Jangan membuka lampiran atau mengklik tautan dari sumber yang tidak dikenal atau meragukan.
Nasabah juga dianjurkan mengaktifkan autentikasi dua faktor atau two factor authentication (2FA) untuk menambah lapisan keamanan akun. Penggunaan kata sandi yang kuat dan unik untuk setiap layanan digital juga sangat disarankan.
Yang paling penting, jangan pernah membagikan PIN, password, atau kode OTP kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sebagai pegawai bank. Bank tidak pernah meminta informasi sensitif tersebut melalui telepon, pesan, atau email.
Saluran Resmi dan Pelaporan
Untuk memastikan keaslian informasi, nasabah hanya perlu mengakses kanal resmi BNI. Layanan resmi disampaikan melalui BNI Call 1500046 serta akun media sosial resmi seperti Instagram @bni46, X @BNI dan @BNICustomerCare, serta Facebook BNI.
Jika menemukan aktivitas mencurigakan atau dugaan phishing, masyarakat dapat melaporkannya melalui email resmi BNI di cert@bni.co.id. Selain itu, pengaduan terkait penipuan juga dapat dilakukan melalui Indonesia Anti-Scam Centre yang dikelola Otoritas Jasa Keuangan.
Langkah pelaporan yang cepat dapat membantu meminimalkan kerugian dan mencegah korban lainnya. Semakin cepat nasabah bertindak, semakin besar peluang untuk menghentikan transaksi ilegal.
Keamanan Digital Tanggung Jawab Bersama
BNI menegaskan bahwa keamanan transaksi digital bukan hanya tanggung jawab bank, tetapi juga nasabah. Literasi digital menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.
Dengan memahami modus kejahatan dan menerapkan kebiasaan aman dalam bertransaksi, masyarakat dapat melindungi dana mereka, termasuk THR yang menjadi hasil kerja keras sepanjang tahun.
Ramadan dan Lebaran seharusnya menjadi momen penuh kebahagiaan dan keberkahan. Oleh karena itu, menjaga keamanan finansial menjadi langkah penting agar tidak ada cerita pahit akibat kelalaian terhadap ancaman siber.
Peningkatan transaksi memang tidak dapat dihindari, tetapi kewaspadaan juga harus ikut meningkat. Dengan disiplin digital dan memanfaatkan kanal resmi, masyarakat dapat tetap bertransaksi dengan aman dan nyaman sepanjang Ramadan hingga Idul Fitri.

Cek Juga Artikel Dari Platform ngobrol.online
