museros.site Shalat Tarawih merupakan salah satu ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar pada bulan Ramadan. Pelaksanaannya menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual umat Islam, baik dilakukan secara berjamaah di masjid maupun secara individu. Dalam kajian fikih ibadah, waktu pelaksanaan shalat Tarawih menjadi salah satu pembahasan yang sering dikaji oleh para ulama.
Secara umum, shalat Tarawih dapat dilaksanakan sejak selesai shalat Isya hingga menjelang terbit fajar. Rentang waktu yang cukup panjang ini memberikan keleluasaan bagi umat Islam untuk memilih waktu yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing. Meski demikian, para ulama menjelaskan bahwa terdapat waktu yang dinilai lebih utama atau afdhal dalam pelaksanaannya.
Tarawih Larut Malam Dinilai Lebih Afdhal
Dalam penjelasan ulama, shalat Tarawih yang dilaksanakan pada waktu larut malam dinilai lebih utama dibandingkan pelaksanaan di awal malam. Hal ini karena pelaksanaan tersebut lebih mendekati praktik qiyamullail, yaitu shalat malam yang dikerjakan dalam suasana tenang dan penuh kekhusyukan.
Riwayat menyebutkan bahwa Muhammad beberapa kali melaksanakan shalat malam bersama para sahabat ketika malam telah berjalan jauh. Bahkan, dalam sebagian riwayat, shalat tersebut dilakukan hingga mendekati waktu sahur. Praktik ini menjadi dasar bagi para ulama untuk menyebut waktu larut malam sebagai waktu yang lebih afdhal untuk shalat Tarawih.
Kekhusyukan dan Kedekatan dengan Qiyamullail
Salah satu alasan utama mengapa Tarawih larut malam dinilai lebih utama adalah karena suasana yang lebih mendukung kekhusyukan. Pada waktu tersebut, aktivitas duniawi telah berkurang, hati lebih tenang, dan konsentrasi ibadah dapat lebih terjaga. Kondisi ini selaras dengan tujuan utama shalat malam, yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan penuh ketundukan.
Shalat Tarawih yang dilakukan pada waktu larut malam juga mencerminkan semangat kesungguhan dalam beribadah. Meski bersifat sunnah, ibadah ini dijalankan dengan keseriusan dan keikhlasan, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dalam shalat malamnya.
Keutamaan Shalat Tarawih Berjamaah
Selain waktu pelaksanaan, aspek berjamaah dalam shalat Tarawih juga memiliki keutamaan tersendiri. Pelaksanaan Tarawih secara berjamaah di masjid mengandung nilai kebersamaan, persatuan, serta syiar Islam yang kuat. Dalam hadis disebutkan bahwa orang yang melaksanakan shalat malam bersama imam hingga selesai akan mendapatkan pahala seperti shalat semalam penuh.
Karena itu, meskipun Tarawih larut malam dinilai lebih afdhal, ulama tetap menekankan pentingnya menjaga keutamaan berjamaah. Bagi sebagian jamaah, mengikuti Tarawih di awal malam setelah shalat Isya menjadi pilihan yang lebih realistis agar tetap dapat meraih pahala berjamaah.
Tarawih Awal Malam Tetap Sah dan Dianjurkan
Pelaksanaan shalat Tarawih di awal malam setelah shalat Isya tetap dibolehkan dan sah menurut syariat. Praktik ini banyak dilakukan di berbagai masjid untuk memberikan kemudahan kepada jamaah, terutama mereka yang memiliki keterbatasan waktu, kondisi fisik, atau tanggung jawab pekerjaan.
Ulama menjelaskan bahwa kemudahan dalam ibadah merupakan bagian dari prinsip syariat Islam. Selama shalat Tarawih dilaksanakan sesuai tuntunan dan dengan niat ibadah yang ikhlas, maka pahala tetap diberikan. Oleh karena itu, umat Islam tidak perlu merasa ragu atau kurang utama ketika memilih melaksanakan Tarawih di awal malam.
Jumlah Rakaat Shalat Tarawih Menurut Sunnah
Dalam tuntunan Rasulullah, shalat Tarawih dikerjakan sebanyak sebelas rakaat termasuk witir. Tata caranya adalah empat rakaat kemudian salam, dilanjutkan empat rakaat lalu salam, dan ditutup dengan shalat witir tiga rakaat. Pelaksanaan ini dikenal dengan bacaan yang panjang dan penuh kekhusyukan.
Penjelasan ini didasarkan pada hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah, yang menerangkan bahwa Rasulullah tidak pernah menambah jumlah rakaat shalat malamnya di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan melebihi sebelas rakaat. Riwayat ini menjadi rujukan utama dalam pembahasan jumlah rakaat Tarawih.
Keleluasaan Umat dalam Menentukan Waktu
Berdasarkan penjelasan tersebut, umat Islam memiliki keleluasaan dalam menentukan waktu pelaksanaan shalat Tarawih. Waktu larut malam memang dinilai lebih afdhal, namun pelaksanaan di awal malam tetap sah, dianjurkan, dan memiliki keutamaan tersendiri, terutama dari sisi berjamaah.
Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa Islam tidak memberatkan pemeluknya. Setiap orang dapat memilih waktu yang paling memungkinkan untuk menjaga kontinuitas ibadah selama bulan Ramadan, tanpa mengurangi nilai ibadah itu sendiri.
Pandangan Ulama dalam Forum Resmi Keagamaan
Penjelasan mengenai waktu utama shalat Tarawih ini juga pernah dibahas dalam forum resmi Majelis Tarjih. Dalam kajian tersebut, ulama menegaskan pentingnya memahami perbedaan antara waktu yang lebih utama dan waktu yang dibolehkan, agar umat tidak terjebak pada sikap saling menyalahkan.
Forum tersebut menekankan bahwa esensi Tarawih terletak pada keikhlasan, kekhusyukan, dan kontinuitas ibadah, bukan semata-mata pada perbedaan waktu pelaksanaan.
Menjaga Semangat Ibadah Ramadan
Pada akhirnya, shalat Tarawih merupakan sarana untuk menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ibadah. Baik dilakukan di awal malam maupun larut malam, tujuan utamanya adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan kualitas keimanan.
Dengan memahami pandangan ulama secara utuh, umat Islam diharapkan dapat menjalankan shalat Tarawih dengan tenang dan penuh keyakinan. Pilihan waktu pelaksanaan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, tanpa mengurangi semangat untuk menghidupkan Ramadan dengan ibadah yang terbaik.

Cek Juga Artikel Dari Platform sultaniyya.org
